• Post 2
  • Post 3
  • Post 4
  • Post 5
  • Post 6
  • Post 7

Awalnya, Tulungagung hanya merupakan daerah kecil yang terletak di sekitar tempat yang saat ini merupakan pusat kota (alun-alun). Tempat tersebut dinamakan Tulungagung karena merupakan sumber air yang besar - dalam bahasa Kawi, tulung berarti mata air, dan agung berarti besar -. Daerah yang lebih luas disebut Ngrowo. Nama Ngrowo masih dipakai sampai sekitar awal abad XX, ketika terjadi perpindahan pusat ibu kota dari Kalangbret ke Tulungagung.

Pada tahun 1205 M, masyarakat Tani Lawadan di selatan Tulungagung, mendapatkan penghargaan dari Raja Daha terakhir, Kertajaya, atas kesetiaan mereka kepada Raja Kertajaya ketika terjadi serangan musuh dari timur Daha. Penghargaan tersebut tercatat dalam Prasasti Lawadan dengan candra sengkala "Sukra Suklapaksa Mangga Siramasa" yang menunjuk tanggal 18 November 1205 M. Tanggal keluarnya prasasti tersebut akhirnya dijadikan sebagai hari jadi Kabupaten Tulungagung sejak tahun 2003.

GADHE Kaos Khas Toeloengagoeng



Dari Boemi HOMO SAPIENS WAJAKENSIS , GADHE hadir membawa warna baroe bagi kota TOELOENGAGOENG jang eksotik dan loewar biasa "Istimewa " ke dalam bentoek prodoek2 tanda tjinta jang elok dan eksotis.

Tanggal 18 Maret 2010, GADHE memoelai tapaknja. Nama GADHE meroepaken singkatan dari " GEGAJOEHAN KANG GEDHE " Ataoe " TJITA2 JANG BESAR/LOEHOER " oentoek kota TOELOENGAGOENG . Sedangkan oentoek logo, GADHE memakai simbol kebesaran kota MARMER jaitoe RETJO ataoe DWARAPALLA . Logo ini sekaligoes mengenalken dan mengingatken kembali simbol ataoe ikon kota jang telah diloepaken oleh sebagian besar masjarakatnja sendiri karena tidak tahoe dan ketidak pedoeliannja.

GADHE TJINDERAMATA TOELOENGAGOENG mengangkat dan mempromosikan kota TOELOENGAGOENG dalam bentuk tjinderamata jang eksotik seperti : KAOS,PIN,MUG,GANTOENGAN KOENTJI,VANDKE,TAS dll. Desain Gambar semoea bertemakan sitoes dan cagar boedaja,kesenian,boedaja serta kata kata dialek khas Toeloengagoeng.

Dibelakang kaos GADHE selaloe kami tulis " FILSAFAT DJAWA ". Dengan toejoean untuk menyampaikan pesan moral dan menghargai peninggalan boedaja nenek moyang yang adi luhung , karena faktanya saat ini telah terjadi pergeseran nilai etika dan boedaja jawa . Generasi sekarangpun enggan menggunakan bahasa djawa sebagai alat komunikasi. Ironisnya bahasa asing saat ini adalah bahasa djawa dan bukan bahasa inggris , Maka GADHE mewujudkan hal tersebut agar bisa dimengerti dan ditela'ah makna dan hakekatnja untuk kita semua.


Semoga dengan doa restoe dari seloeroeh masjarakat TOELOENGAGOENG dan petjinta-nja, GADHE semakin besar dan makin kesohor ke seloeroeh pendjoroe boemi. Matoer noewoen Kek !!...djian mening....!!.
Read More

Hotel Dan Penginapan




 Rekomendasi Lain :

Malinda Indah Hotel, Jl. Jayeng Kusuma 3 Tulungagung Phone : +62 355 321433

Palapa Hotel, Jl. Teuku Umar 81 Tulungagung Phone : +62 355 321854

Gajah Mas Hotel, Jl. Kartini 19 Tulungagung Phone : +62 355 321996

Panorama Hotel, Jl. W.R. Supratman 12 Tulungagung, Phone : +62 355 321857

Narita Hotel, Jl. Agus Salim 87 Tulungagung Phone : +62 355 321608

Nasional Hotel, Jl. Pahlawan 3 Tulungagung Phone : +62 355 321642

Wijaya Hotel, Jl. Teuku umar III / 4 Tulungagung Phone : +62 355 322774

Surakarta Hotel, Jl. Antasari Tulungagung Phone : +62 355 321445

Srabrah Semesta Resort, Jl.Raya Sabrah Karanganom Kauman Phone : +62 355 333333

Srikandi, Jl. Stasiun No. 7 Ngunut Phone : +62 355 395665

Pesanggrahan Agro Wilis, Kec. Sendang Tulungagung Phone : +62 355 321785

Tanjung Hotel, Jl. Laksamana Adi Sucipto Phone : +62 355 323502

Palem Hotel, Jl. Stadion Ketanon Kedungwaru Phone: +62 355 324942

Grand Hotel, Jl. I Gusti Ngurah Rai 26 Tulungagung

Swalloh Hotel, Waduk Wonorejo

Wonorejo Resort Ds. Wonorejo Kec. Pagerwojo Tulungagung

Crown Victoria HotelJl. Supriadi No. 41, Tulungagung, Tulungagung, Indonesia 66227

dst...
Read More

Kesenian & Kebudayaan

Reyog kendang Tulungagung merupakan gubahan tari rakyat, menggambarkan arak-arakan prajurit Kedhirilaya tatkala mengiringi pengantin "Ratu Kilisuci" ke Gunung Kelud, untuk menyaksikan dari dekat hasil pekerjaan Jathasura, sudahkah memenuhi persyaratan pasang-girinya atau belum. Dalam gubahan Tari Reyog ini barisan prajurit yang berarak diwakili oleh enam orang penari.
Yang ingin dikisahkan dalam tarian tersebut ialah, betapa sulit perjalanan yang harus mereka tempuh, betapa berat beban perbekalan yang mereka bawa, sampai terbungkuk-bungkuk, terseok-seok, menuruni lembah-lembah yang curam, menaiki gunung-gunung, bagaimana mereka mengelilingi kawah seraya melihat melongok-longok ke dalam, kepanikan mereka, ketika "Sang Puteri" terjatuh masuk kawah, disusul kemudian dengan pelemparan batu dan tanah yang mengurug kawah tersebut, sehingga Jathasura yang terjun menolong "Sang Puteri" tewas terkubur dalam kawah, akhirnya kegembiraan oleh kemenangan yang mereka capai.
Semua adegan itu mereka lakukan melalui simbol-simbol gerak tari yang ekspresif mempesona, yang banyak menggunakan langkah-langkah kaki yang serempak dalam berbagai variasi, gerakan-gerakan lambung badan, pundak, leher dan kepala, disertai mimik yang serius, sedang kedua tangannya sibuk mengerjakan dhogdhog atau tamtam yang mereka gendong dengan mengikatnya dengan sampur yang menyilang melalui pundak kanan. Tangan kiri menahan dhogdhog, tangan kanannya memukul-mukul dhogdhog tersebut membuat irama yang dikehendaki, meningkahi gerak tari dalam tempo kadang-kadang cepat, kadang-kadang lambat. Demikian kaya simbol-simbol yang mereka ungkapkan lewat tari mereka yang penuh dengan ragam variasi, dalam iringan gamelan yang monoton magis, dengan lengkingan selompretnya yang membawakan melodi terus-menerus tanpa putus, benar-benar memukau penonton, seakan-akan berada di bawah hipnose.
Busana penari adalah busana keprajuritan menurut fantasi mereka dari unit reyog yang bersangkutan. Di Tulungagung dan sekitar, bahkan sampai di luar daerah Kabupaten Tulungagung, sekarang sudah banyak bersebaran unit-unit reyog sejenis, dan mereka memiliki seleranya masing-masing dalam memilih warna. Unit-unit yang terdiri dari golongan muda usia, biasanya memilih warna yang menyala, merah misalnya.
Sebuah unit reyog dari desa Gendhingan, Kecamatan Kedhungwaru, Kabupaten Tulungagung, beranggotakan orang-orang dewasa, bahkan tua-tua. Mungkin karena kedewasaannya itu mereka sengaja memilih warna hitam sebagai latar dasar busananya, sedang atribut-atributnya berwarna cerah. Busana itu terdiri atas:
  1. Baju hitam berlengan panjang, bagian belakang kowakan untuk keris. Sepanjang lengan baju diberi berseret merah atau kuning, juga di pergelangan.
  2. Celana hitam, sempit, sampai di bawah lutut. Di samping juga diberi berseret merah memanjang dari atas ke bawah.
  3. Kain batik panjang melilit di pinggang, bagian depan menjulai ke bawah. Sebagai ikat pinggang digunakan setagen, kemudian dihias dengan sampur berwarna.
  4. Ikat kepala berwarna hitam juga, diberi iker-iker (pinggiran topi) tetapi berbentuk silinder panjang bergaris tengah 3 cm, dililitkan melingkari kepala. Warnanya merah dan putih.
  5. Atribut-atribut yang dipakai:
    • kacamata gelap atau terang;
    • sumping di telinga kanan dan kiri;
    • epolet di atas pundak, dengan diberi hiasan rumbai-rumbai dari benang perak;
    • sampur untuk selendang guna menggendong dhogdhog;
    • kaos kaki panjang.
Busana yang dikenakan oleh unit reyog dari golongan muda usia, tidak jauh berbeda, hanya warna mereka pilih yang menyala, disamping hiasan-hiasan lain yang dianggap perlu untuk "memperindah" penampilan, misalnya rumbai-rumbai yang dipasang melingkar pada iker-iker. Dalam pada itu pada kaki kiri dipasang gongseng, yaitu gelang kaki yang bergiring-giring. Tentang gamelan yang mengiringi dapat dituturkan sebagai berikut. Keenam instrumen dhogdhog, sebangsa kendhang atau ketipung, tetapi kulitnya hanya sebelah, yang ditabuh oleh penarinya sendiri, terbagi menurut fungsinya: dhogdhog kerep, dhogdhog arang, timbang-timbangan atau imbalan, keplak, trentheng dan sebuah lagi dipukul dengan tongkat kecil disebut trunthong. Di luar formasi ini ditambah dengan tiga orang pemain tambahan sebagai pemukul kenong, pemukul kempul, dan peniup selompret. Kenong dan kempul secara bergantian menciptakan kejelasan ritma, dan selompret membuat melodi lagu-lagu yang memperjelas pergantian-pergantian ragam gerak.
Berbeda dengan Reyog Tulunggung yang ada di desa Gendhingan, pada reyog sejenis di desa Ngulanwentah, Kabupaten Trenggalek, si penabuh kenong tidak mengambil tempat kumpul bersama kedua rekannya penabuh, melainkan ikut di arena, walaupun tidak menari, hanya mondar-mandir, atau berjalan keliling, atau menyelinap di antara keenam penrinya, sembari memukul kenong yang diayunkan ke depan dan ke belakang. Ia pun mengenakan busana serupa dengan busana penari, hanya dengan warna lain, dan tanpa iker-iker pada ikat kepalanya.
Lagu-lagu pengiringnya dipilih yang populer di kalangan rakyat, misalnya Gandariya, Angleng, Loro-loro, Pring-Padhapring, Ijo-ijo, dan lain-lain. Terdapat kecenderungan pada reyog angkatan tua, (khususnya yang ada di desa Gendhingan), untuk menggunakan irama lambat dan penuh perasaan, yang oleh angkatan mudanya agaknya kurang disukai. Mereka, angkatan muda ini, lebih senang menggunakan irama yang "hot”, sesuai dengan gejolak jiwanya yang "dinamik”. Dalam hal ini AM Munardi menuliskan tanggapannya sebagai berikut:




Legendanya tarian itu mengiring temanten. Memang peristiwa ritual kita pada masa lampau tidak terlepas dari existensi tari. Sampai sekarang Reyog Kendhang (= Reyog Tulungagung, S.Tm.) juga sering ditampilkan orang dalam kerangka pesta perkawinan atau khitanan. Dalam perkembangan akhir-akhir ini kemudian dipertunjukkan dalam pawai-pawai besar untuk memeriahkan hari-hari besar nasional. Untuk kepentingan yang akhir inilah kemudian orang membuat penampilan tari Reyog Kendhang identik dengan "drum-band”. Maka gerak-gerik yang semula dirasa refined dan halus, cenderung dibuat lebih keras dan cepat. Derap-derap genderang ditirukan dengan pukulan-pukulan dhogdhog. Terompet bambu-kayu semacam sroten itu pun ditiup dengan lagu-lagu baru. Akibatnya musik diatonis itu pun dipaksakan dalam nada-nada pelog pentatonis. Dalam timbre yang tak mungkin berkualitas sebuah drum-band modern, maka cara seperti itu menjadi berkesan dangkal. Pada suatu kesempatan menonton pertunjukan Reyog Kendhang di Desa Gendhingan, Kecamatan Kedhungwaru, Tulungagung, maka terasa benarlah bahwa proses penampilan Reyog Kendhang yang pada umumnya dipopulerkan oleh para remaja itu cenderung menuju pendangkalan. Penampilan oleh para penari golongan tua di desa tersebut terasa benar bobotnya. Geraknya yang serba tidak tergesa-gesa lebih memperjelas pola tari yang sesungguhnya cukup refined. Kekayaan pola lantainya terasa benar menyatu dengan lingkungan. Memperbandingkan Reyog Kendhang di Gendhingan ini dengan Reyog Kendhang para remaja pada umumnya menjadi semakin jelas adanya keinginan untuk tampilnya garapan-garapan baru, tetapi tidak dimulai dengan pendasaran yang kokoh. Ya, kadang-kadang orang terlalu cepat mengidentikkan arti "dinamika” dengan gerak yang serba keras dan cepat. Seperti halnya dengan rekannya Reyog Dhadhakmerak di Ponorogo, maka sebagai tontonan rakyat, Reyog Tulungagung (Reyog Kendhang) pun tidak akan kehilangan peranannya sebagai penghibur atau pemeriah suasana di mana saja warga desa mempunyai hajat. Perkawinan, khitanan, kelahiran, tingkeban, bersih desa, musim panen, dan lain sebagainya. Mungkin sekarang tidak selaris dulu, sebelum musik pop berirama dangdut merajai pasaran dimana-mana Namun, pada hajat-hajat yang masih ada hubungannya dengan kepercayaan yang bersifat sakral atau yang masih mempunyai sifat-sifat tradisional, kesenian reyog masih diperlukan. Dalam perarakan pengantin misalnya, maka fungsi Reyog Kendhang tidak saja sebagai pengiring yang memeriahkan suasana atau sekedar manghibur semata-mata, melainkan bahkan pun sebagai penjaga keselamatan mempelai laki-laki yang diarak. Mungkin ini sisa-sisa kepercayaan legendarik, bahwa reyog dulunya merupakan sepasukan prajurit Kedhirilaya yang bertugas menjaga keselamatan sang pengantin "Ratu Kilisuci”. Kepercayaan itu menjadi naluri yang masih terus dipelihara, walaupun tinggal sepercik upacara simbolik belaka, atau hanya tiru-tiru. Tetapi yang jelas, apakah itu upacara atau pun tiru-tiru, tiap-tiap hajat selalu mengharapkan keselamatan, dalam hal ini terutama keselamatan perkawinan kedua mempelai tentunya. Jadi Reyog berfungsi sebagai penolak bala, begitulah kira-kira.




 Tentang Kyai UPAS










Tombak Kyai Upas adalah pusaka Kabupaten Tulungagung.
Sebagaimana ditulis dalam buku Sejarah Babad Tulungagung, menurut latar belakang budayanya atau cerita rakyat dari versi keluarga Raden Mas Pringgo Kusumo Bupati Tulungagung yang ke X.

Konon, pada akhir pemerintahan Mojopahit banyak keluarga Raja yang membuang gelarnya sebagai bangsawan, dan melarikan diri ke Bali, Jawa Tengah dan Jawa Barat.
Salah seorang kerabat Raja bernama
Wonoboyo melarikan diri ke Jawa Tengah dan babat hutan disekitar wilayah Mataram dekat Rawa Pening-Ambarawa. Setelah membabat hutan Wonoboyo bergelar Ki Wonoboya. Selanjutnya hutan yang dibabad itu dikemudian hari menjadi suatu pedukuhan yang sangat ramai. Dan sesuai dengan nama putranya, oleh Ki Wonoboyo dukuh itu dinamakan Dukuh Mangir. Pada suatu hari, Ki Wonoboyo mengadakan
selamatan bersih desa. Banyak para muda-mudi yang datang membantu. Namun ada salah satu diantara pemudi yang lupa tidak membawa pisau, dan terpaksa meminjam kepada Ki Wonoboyo.
Ki Wonoboyo tidak keberatan, gadis itu dipinjami sebuah pisau namun ada pantangannya, yakni jangan sekali-kali pisau itu ditaruh dipangkuannya.
Tetapi gadis itu lupa. Pada saat ia sedang beristirahat, pisau itu ditaruh dipangkuannya. Namun tiba-tiba pisau itu lenyap.
Dengan hilangnya pisau tersebut sang gadis itu hamil. Ia menangis, dan menceritakan persoalannya kepada Ki Wonoboyo. Alangkah prihatinnya Ki Wonoboyo. Yang selanjutnya beliau bertapa dipuncak Gunung Merapi.
Ketika telah datang saatnya melahirkan, betapa lebih terkejutnya sang ibu, karena bukannya jabang bayi yang dilahirkan-melainkan seekor ular naga.
Namun bagaimanapun keadaannya ia tetap anak bagi seorang ibu.
Dan ular Naga itu diberi nama Baru Klinting, yang berikutnya dibesarkan di Rawa Pening. Baru Klinting punya jiwa dan bahkan bisa berbicara seperti layaknya manusia. Setelah dewasa, kepada ibunya ia bertanya tentang siapa dan dimana ayahnya. Dijawablah oleh sang ibu, jika ayahnya adalah Ki Wonoboyo dan saat ini sedang melakukan tapa di puncak Gunung Merapi.
Atas ijin ibu, berangkatlah Sang Naga mencari ayahnya. Namun setelah sampai ketempat tujuan, alangkah kecewanya Baru Klinting.
Karena bukannya pengakuan Ki Wonoboyo sebagai ayah, tetapi sebuah cacian "Tak mungkin Wonoboyo mempunyai anak seekor ular". Baru Klinting tetap bersikukuh, maka Ki Wonoboyo mengajukan sebuah tuntutan: lingkarilah puncak merapi.
Karena untuk mendapatkan pengakuan diri sebagai anak Ki Wonoboyo, diturutinyalah permintaan ayahnya.
Ketika kurang sedikit, Baru Klinting menjulurkan lidah untuk menyambung antara kepala dan ujung ekornya, tiba-tiba Ki Wonoboyo memotong lidah itu. Berubahlah lidah ular raksasa itu menjadi sebilah mata tombak.
Yang akhirnya Baru Klinting melarikan diri dan dikejar oleh Wonoboyo. Baru Klinting, selanjutnya menceburkan diri ke laut selatan dan berubah wujud menjadi sebatang kayu.
Diambilnya kayu itu oleh Wonoboyo dan dipergunakan sebagai "landean" atau batang tombak, dan tombak itu diberinya nama Kyai Upas.
Sepeninggalan Ki Wonoboyo akhirnya tombak itu dimiliki oleh putranya yang bernama Mangir. Dan dengan tombak pusaka Kyai Upas, Mangir bergelar nama "Ki Ajar Mangir".
Kini Mangir menjadi sakti. Desanya menjadi ramai, dan memutuskan untuk tidak mau tunduk dengan Mataram. Memisahkan diri, tidak mau terikat oleh kekuasaan Raja. Dengan sikap Mangir yang seperti itu, pihak Keraton cemas.
Tak mungkin Mangir ditundukkan dengan cara kekerasan. Mangir sakti karena pusakanya. Akhirnya, terambil kesimpulan oleh Raja Mataram utuk mengirim telik sandi yang berpura-pura "mbarang jantur" menyelidiki kelemahan Ki Ajar Mangir.
Putra-putri Raja dikorbankan untuk menjadi "Waranggono" dan masuk ke Dukuh Mangir. Tak sia-sia, Ki Ajar Mangir kena jebak.
Setelah putra mendiang Ki Wonoboyo itu mengetahui orang yang mbarang jantur, dengan waranggononya yang canik-cantik dirinya terpikat dan berujung pada niatnya untuk memperistri. Terjadilah perkawinan antara Ki Ajar Mangir dengan Putri Raja.
Lama ia berumah tangga, hingga pada suatu hari Sang Putri mengatakan pada suaminya, jika sebenarnya dirinya adalah Putri Raja.
Kata Putri, meskipun Raja Mataram adalah musuh dari pada Ki Ajar Mangir, tetapi mengingat bahwa ia sekarang sudah menjadi menantunya, apakah tidak sebaiknya jika putra menantu mau menghadap untuk menghaturkan sembah bekti.
Jika Ki Ajar Mangir memang dianggap bersalah, maka sang Putri bersedia memintakan maaf. Karena didesak oleh sang istri, akhirnya dengan tombak Kyai Upas juga berangkatlah mereka ke Keraton untuk sungkem pada orang tua.
Namun karena tujuan pokok kedatangannya ke Mataram untuk menghaturkan sembah bekti menantu kepada orang tua, maka para penjaga pintu gerbang-melarang Kyai Upas dibawa masuk ke Keraton.
Ketika Ki Ajar Mangir sedang menghaturkan sungkem, kepalanya dipegang oleh mertuanya dan dibenturkan pada tempat duduk yang terbuat dari batu Pualam, sehingga Ki Ajar Mangir tewas seketika itu juga.
Selanjutnya Mangir dimakamkan dalam posisi badan-separo didalam tembok dan separo diluar tembok Keraton.
Dan itu menandakan, meskipun musuh-tetapi Ki Ajar Mangir juga anak menantu. Sepeninggalan mendiang Ki Ajar Mangir itu, Mataram terserang pagebluk dan itu sebabkan oleh Tombak Kyai Upas.
Adapun berikutnya, yang kuat berketempatan tombak Pusaka itu adalah keturunan Raja Mataram yang mejadi Bupati di Kabupaten Ngrowo (Tulungagung).
Menurut cerita kursi yang terbuat dari batu Pualam yang dipakai untuk membenturkan kepala Mangir sampai sekarang masih ada, ialah di Kota Gede dan dinamakan "Watu Gateng


























Tentang Temanten Kucing




Usai Dimandikan, Kedua Kucing Dilepas Bebas Festival Budaya Tulungagung Manten Kucing yang digelar nanti, tak lain sebagai wahana untuk lebih mengenalkan upacara adat tersebut ke masyarakat lebih luas. Dulu Manten Kucing dilaksanakan sebagai tatacara untuk memohon turunnya hujan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Namun dengan perkembangan zaman, Manten Kucing diadakan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan bahwa permohonan turunnya telah dipenuhi. Apapun bentuknya, kita wajib melestarikan upacara adat/tradisi lokal sebagai kekayaan budaya Tulungagung yang bisa menambah kekayaan budaya bangsa dan aset wisata budaya.
Di Coban sana, lima hari sebelum upacara digelar, sesepuh pemimpin upacara menggelar ritual memohon izin terkait dengan hari yang telah ditentukan untuk menggelar Manten Kucing. Hal itu dilakukan seiring dengan persiapan kelengkapan upacara se­perti dua ekor kucing jantan dan betina. Karena tidak ada kucing Candramawa, maka digunakan kucing telon yang diambil dari dua dusun, Bangak dan Sumberjo. Lalu dua orang calon pengantin yang asalnya sesuai dengan asal kucingnya. Namun, untuk sebuah tontonan/pertunjukan (festival), persyaratannya tidak harus begitu. Kelengkapan upacara berikutnya adalah sepe­rangkat jaranan. Kesenian ini mengiringi arak-arakan calon pengantin menuju tempat upacara dan dipentaskan di tempat upacara.
Ada juga rombongan Tiban yaitu sejumlah pemuda gagah dengan kostum celana longgar dan baju hitam, serta ikat kepala.
Mereka membawa ujung yaitu lidi aren atau enau sebesar ibu jari sebagai cambuk. Seni Tiban diiringi gambang, kendang, dan kentongan. Seni ini mengiringi arak-arakan calon pengantin dan mengadakan pergelaran (show) Tiban di tempat upacara.

Jalannya Upacara Pada Hari H, calon pengantin dengan dandanan pengantin Jawa sambil menggendong ku­cingnya diarak menuju Coban. Mereka diapit duah buah kembang mayang. Di lokasi itu prosesi upacara Manten Kucing digelar. Pertama, memandikan calon pengantin sambil meng­gen­dong kucing. Lalu sesepuh adat memandikan kucing satu persatu, kemudian kedua binatang tersebut dilepas begitu saja. Selanjutnya kedua calon pengantin menuju tempat duduk untuk Jemuk Pengantin: tempat pertemuan pengantin pria dan wanita beralasakan tikar dan kain panjang/jarit.
Prosesi berikutnya adalah, kedua pengantin berjalan perlahan menuju jemuk sambil memegang gantal (selembar daun sirih yang digulung). Setelah dekat, kedua pengantin saling lempar gantal. Lalu dipimpin seorang juru jemuk, kedua pengantin dipertemukan sesuai adat Jawa atau adat setempat. Kedua pengantin kemudian berdiri di atas tikar dan kain panjang/jarit. Dan juru jemuk melakukan beberapa prosesi untuk pengantin antara lain: minum air kendi tiga kali. Ke­dua pengantin bersalaman dan tangannya disiram air kendi tiga kali. Pengantin wanita membasuh kaki pengantin pria. Setelah itu, kedua mempelai berputar/berkeliling satu kali.
Prosesi berikutnya, kedua pengantin diajak ke tempat selamatan yang dipimpin oleh juru ujub/juru kajat. Seusai selamatan, acara pergelaran jaranan dan tiban dimulai. Pentas jaranan digelar sampai selesai untuk member hiburan kepada masyarakat penonton.
Upacara Manten Kucing merupakan upacara tradisional yang masih dilaksanakan oleh masyarakat Desa Pelem. Dengan mewariskan budaya-budaya bangsa kepada generasi penerus, diharapkan muncul rasa memiliki. Dengan begitu, mereka tidak akan begitu saja menerima budaya asing yang mungkin akan mendesak budaya kita. Menggali dan melestarikan upacara Manten Kucing akan menambah aset wisata budaya dan wisata alam di Kabupaten Tulungagung. (*)


Tentang KENTRUNG



Banyak di antara kita yang tidak lagi mengenal Kentrung, salah satu kesenian yang dimainkan oleh sebuah grup dengan seperangkat alat musik yang terdiri dari kendang, ketipung dan jidor. Kentrung adalah salah satu kesenian bertutur, seperti layaknya wayang kulit. Hanya saja Kentrung tidak disertai adegan wayang. Sepanjang pementasanya Kentrung hanya diisi oleh seorang dalang yang merangkap sebagai penabuh gendang dan ditemani oleh penyenggak yang menabuh rebana (jidor). Dulu Kentrung banyak dipentaskan pada berbagai hajatan masyarakat seperti syukuran kelahiran anak, khitanan, pitonan, maupun mudun lemah.

Kentrung sarat akan nilai-nilai dakwah. Materi lakon-nya pada umumnya menceritakan tentang ketauladanan zaman Khalifah Empat, Wali Songo dan zaman Mataram Islam. Ada juga yang terkait dengan sejarah di Pulau Jawa yang banyak dipengaruhi oleh Hindu dan Budha. Di antara lakon-lakonnya yang populer adalah Nabi yusuf, Syeh Subakir, Amad Muhammad, Kiai Dullah, Amir Magang, Sabar-Subur, Marmaya Ngentrung, Sunan Kalijaga, Ajisaka dan Babad Tanah Jawa. Selain itu kerap juga membabarkan mengenai nilai-nilai tasawuf dengan mengupas berbagai topik seperti Purwaning Dumadi, Keutaman, Kasampurnan Urip, dan Sangkan Paraning Dumadi. Kentrung juga sarat dengan pesan-pesan moral yang tercermin pada tembang-tembang Kentrung, diantaranya Kembang-Kembangan; Kembang Terong Abang Biru Moblong-Moblong, dan Sak Iki Wis Bebas Ngomong, Ojo Clemang-Clemong (bunga terong berwarna merah biru mencorong, sekarang ini sudah bebas berbicara, tetapi jangan celometan).

Prof. Dr. Suripan Sudi Hutomo dalam bukunya Kentrung mengatakan kesenian ini berkembang pada abad XVI di Kediri, Blitar, Tulungagung, Tuban dan Ponorogo. Versi awal kesenian ini cukup beragam. Ada yang menyebut Kentrung sebagai kesenian asli bangsa Indonesia. Namun versi lain mengatakan Kentrung berasal dari jazirah Arab, Persia, dan India. Yang pasti, sebagai sarana dakwah, pada masa kejayaannya Kentrung diminati masyarakat. Kentrung mencapai zaman keemasannya pada tahun 1970-an hingga 1980-an. Selama dua dasawarsa itu hampir seluruh masyarakat yang berpesta mengudang Kentrung. Di awal 90-an, ketika televisi makin murah dan layar tancap menawarkan altenatif hiburan yang praktis, Kentrung mulai terseok.

Dari catatan Seksi Kebudayaan Diknas Tulungagung pada tahun 70-an hampir setiap desa di Tulungagung memiliki kelompok Kentrung. Namun saat ini hanya tinggal 1 saja yang masih bertahan. Diknas Tulungagung pernah menyarankan agar kelompok-kelompok Kentrung tidak terpaku pada pakem, tapi menampilkan inovasi baru. Misal, mencampur dengan teknik penampilan kesenian lain, kalau perlu mengambil metode campursari. Lenyapnya apresiasi masyarakat, dan menyusutnya komunitas seniman Kentrung, juga mengakibatkan tidak terjadinya regenerasi dan pewarisan. Serbuan kesenian modern seperti layar tancap, dangdut, atau memutar VCD menjadi penyebab utama hilangnya Kentrung di tengah masyarakat. Kentrung tidak sendiri. Kesenian tradisional lainnya; Ketoprak, Ludruk, Langen Tayub, Jaranan, dan Jathilan, juga mengalami nasib serupa. Namun khusus untuk Kentrung, jalan menuju kematiannya lebih disebabkan oleh sikap masyarakatnya yang lebih suka menjadikan kesenian sebagai tontonan, bukan tuntunan. Jadi, tidak aneh jika perilaku masyarakat sekarang juga berubah karena kesenian tidak lagi berisi tuntunan-tuntunan.

Meskipun sekarang ini Kentrung mulai meredup, beberapa seniman muda mulai menggeluti Kentrung dengan mengembangkan inovasi-inovasi baru seperti menggabungkanya dengan lawakan dan ludruk. Suatu usaha dari seniman muda yang patut mendapat dukungan dan apresiasi dalam melestarikan Kentrung.
Read More

Wisata Religi

 Makam Sunan Kuning Di Macan Bang (Gondang Tulungagung)





REKOMENDASI :

    • Guru Wali di Pantai Popoh Tulungagung

    • Pangeran Benowo di Bedalem Kecamatan Besuki Tulungagung

    • KHR. Abdul Fattah di Mangunsari Kecamatan Kedungwaru Tulungagung

    • KH. Dimyathi 'Wali Dimyathi' di Desa Campurdarat Kecamatan Campurdarat

    • Sunan Kuning di Desa Macanbang Kecamatan Gondang Tulungagung

    • Syeh Basarudin di Srigading Desa Bolorejo Kecamatan Kauman Tulungagung

    • R. Jayeng Kusumo di Demuk Pucanglaban Tulungagung

    • Klenteng Tan Thiek Sue di Tulungagung

    • Tumenggung Surontani di Wajak Kecamatan Boyolangu Tulungagung
    Read More

    Wisata Kuliner

    Sego Pecel (Nasi Pecel) Al-Azhaar
    Mengapa nasi pecel ini dinamakan "Sego Pecel Al-Azhaar"? Ya, karena letak warung nasi pecel ini berdekatan dengan sebuah sekolah islam yg bernama SDI Al-Azhaar. Maka dari itu, warung nasi pecel ini dinamakan "Sego Pecel Al-Azhaar. Untuk sekedar info, jika anda ingin menikmati lezatnya sego pecel ini, saya sarankan anda sudah sampai di warung ini kurang dari pukul 6 pagi. Mengapa? Karena penikmat Sego pecel ini sangatlah banyak, apalagi kalau hari libur. Oooowhhhh.. jangan harap anda kebagian nasi pecel ini jika datang pada 6.30 pagi. Dijamin anda pasti kebagian daunnya aja. -_-





     Sompil


    adalah makanan yang terdiri dari lontong yang diiris-iris, dan ditambahkan lotho, jangan bung, dan bubuk kedelai diatasnya. Kuliner ini juga terkenal akan kepedasannya. Kalau warung sompil yang terkenal di Tulungagung, terletak di depan "Rumah Ahli Nujum" yang dulunya cukup terkenal di Tulungagung. Sompil ini sudah berdiri sejak lama, mungkin sekitar 10 tahun lebih. Karena itu, sompil ini sudah dikenal sejak lama di kalangan masyarakat Tulungagung.




     Rekomendasi :

    • Sate dan gule kambing, Sate Tulungagung berbeda dengan sate Madura dan sate Ponorogo, yang bumbunya mengandung kacang, tetapi memakai bumbu garam, merica, petis, kecap dan ditaburi irisan bawang merah dan daun jeruk. Sehingga rasanya memang khas Tulungagungan.
    • Nasi lodho Tulungagung, Ayam dimasak kuah dengan bumbu kuning
    • Sredek, Makanan yang terbuat dari gethuk ketela putih putih, kemudian digoreng. Biasa dimakan dengan tempe goreng dan cabe mentah (sebagai lalap), adalah makanan khas Tulungagung selatan.
    • Kemplang, makanan yang terbuat dari ketela yang diparut dikasih bumbu-bumbu dibentuk pipih diatasnya dikasih kacang lotho lalu di goreng itu juga makanan khas tulungagung
    • Emping mlinjo, makanan ini terbuat dari biji blinjo yang dipipihkan
    • Krupuk gadung
    • Soto ayam kampung Tulungagung,  Warung terlaris ada di Sepanjang jalan Perempatan Cuiri ke selatan
    • Nasi pecel Tulungagung
    • Sompil, Lontong diiris dicampur sayur lodeh
    • Lopis, makanan seperti lontong biasanya dicampur cenil, gethuk dikasih larutan gula merah
    • Cenil, Yang dibuat dari tepung ketela digiligkan biasanya buat tambahan getuk
    • Krupuk rambak Tulungagung, produksi kulit sapi terbanyak di seputaran Botoran Panggungrejo kota, Sembung.
    • Gethuk, singkong rebus yang dihaluskan dan dicampur dengan gula ditaburi parutan kelapa diatasnya
    • Srondeng, parutan kelapa digoreng kadang-kadang buat campuran dendeng sapi
    • Jenang sabun, Jenang yang dimakan kenyal
    • Jenang grendol, makanan terbuat dari tepung kanji
    • Geti, terbuat dari wijen kadang-kadang dicampur kacang
    • Kopi cethe, ampas kopi yang dijadikan bahan pengoles rokok
    • Punten pecel, nasi ketan yang dibumbui dikasih santan dan ditumbuk halus
    • Brondong ketan
    • Capar tape, tape yang terbuat dari ketela pohon, dicampur toge, kemudian disiram sambal pecel.
    • Glondhong juruh, asli Sambitan, terbuat dari kukusan ketela pohon disiram juruh kental. (mantab)
    • Sego bantingan Nasi, yang sudah dibungkus dijual secara murah meriah.
    • Gembrot, Jajanan khas tersebut biasa dijajakan di berbagai penjuru Kabupaten Tulungagung.
    • dll.

    Read More

    Air Terjun Lawehan Sendang


    Air terjun Lawehan salah satu potensi wisata Kabupaten Tulungagung, berada di dusun Turi, desa Geger, Kecamatan Sendang. Lebih kurang 25 km arah barat dari kota Tulungagung. yang merupakan bagian dari Lereng Wilis dengan ketinggian + 1.200 m diatas permukaan air laut. Untuk menuju lokasi harus berjalan kaki + 3 km melewati indahnya panorama perbukitan, dan sembilan kali menyeberangi sungai di hutan yang masih perawan.

    Menurut kepercayaan penduduk setempat, daerah ini dikuasai oleh Mbok Roro Dewi Gangga, Mbok Roro Cenethi, Mbok Roro Wilis, dan Mbok Roro Endang Sampur.

    Penduduk setempat juga meyakini, barang siapa yang mandi di air terjun ini akan sembuh dari penyakitnya. Karena khasnya jalan menuju obyek ini, yang naik, turun licin, curam dan menerobos semak belukar, maka sangat cocok bagi mereka yang suka tantangan dan pecinta alam. Apalagi disekitar air terjun banyak tumbuh tanaman anggrek yang masih langka.
    Read More

    Telaga Mburet

    Salah satu telaga yang masih mampu mengeluarkan sumber air dari sungai bawah tanah walau semakin menyusut debet air yang dikeluarkan karena pengaruh iklim dan penggundulan hutan namun masih bisa untuk mengairi sawah dari sebagian tiga desa,meski bergilir yaitu Desa Sawo, Ngentrong dan Gedangan
    Menurut kepercayaan yang menguasai di telaga Buret adalah Mbah Djiigangdjoyo. Dalam cerita sebetulnya mbah Djigangdjoyo itu juga seorang pangeran tetapi oleh sebab termasuk pangeran yang sudah tua, maka lazimnya orang-orang lalu menyebutnya mbah Djigang begitu saja.

    Mungkin pengeran Djigangdjojo itu juga seorang pelarian yang tujuannya sama dengan Pangeran Benowo di Bedalem hanya tempatnya menepi di telaga Buret.
    Mbah Djigangdjojo kesenangannya adu jago. Sampai sekarang ini masih dipercayai kalau mbah Djigangdjojo itu kalah jagonya, maka keadaan ikan-ikan di rawa-rawa kelihatan banyak sekali.
    Mbah Djigangdjojo mempunyai 2 orang anak yang seorang bernama Sekardjojo tempatnya masih menjadi satu ditelaga Buret berkumpul dengan mbah Djigangdjojo, sedang yang seorang bernama Kembangsore bertempat dibawah dawuhan/jempatan desa Gedangan.

    Keadaan telaga Buret sampai sekarang seakan-akan masih tampak keangkerannya. Tak ada yang berani mengambil ikan dari sekitar Telaga itu, karena menurut kepercayan kalu ada yang berani mengambil, akhirnya tidak antara lama pasti menderita/mendapat halangan.
    Kecuali kalau ikan tadi sudah berada di dawuhan Malang, biarpun asalnya dari telaga Buret tetapi sudah bisa diambil oleh siapapun saja.
    Bagi desa Sawo, Gedangan dan Ngentrong telaga Buret merupakan tempat yang dianggap keramat.
    Tiga desa tersebut tiap 1 tahun sekali tepat pada bulan Selo, hari Jum’at Legi bersama-sama mengadakan ulur-ulur /slamatan disitu.

    Menurut cerita para sesepuh kalau setiap tahun desa-desa tadi tidak mengadakan ulur-ulur (slametan) ke telaga Buret itu, maka banyak terjadi halangan didesanya. Oleh sebab itu hingga sekarang tidak berani meninggalkan kebiasaan tersebut.
    Kecuali itu telaga buret masih menjadi tempat menepi bagi orang-orang yang akan magang lurah, kedatangannya kesitu untuk mencari timbul. Sewaktu-waktu sudah berhasil/tercapai cita-citanya lalu mengadakan slametan/nyadran ke telaga tersebut.
    Read More

    .